Jakarta, 29 September 2026 –
Bangkai KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di Laut Jawa belum juga berhasil diangkat ke permukaan meski operasi pencarian telah berlangsung lebih dari dua pekan. Salah satu penyebab utamanya adalah operasi salvage membutuhkan kontraktor khusus, peralatan berat, survei teknis, serta koordinasi antara pemilik kapal dan perusahaan asuransi Protection and Indemnity (P&I). Kementerian Perhubungan bahkan telah memberikan teguran kepada pihak asuransi karena proses penunjukan perusahaan salvage dinilai berjalan lambat. KSOP Banjarmasin juga telah memberikan teguran kedua kepada pemilik kapal agar pengangkatan segera dilaksanakan.
Kepala KSOP Kelas I Banjarmasin Heri Purwanto mengatakan pihak asuransi masih mempertimbangkan perusahaan yang akan menjadi pelaksana utama operasi tersebut. Sejumlah perusahaan salvage, termasuk perusahaan asing dan perusahaan dalam negeri, masuk dalam pertimbangan untuk menangani kapal berbobot sekitar 4.277 ton itu. Penunjukan kontraktor menjadi tahapan penting karena pengangkatan kapal tidak dapat dilakukan langsung oleh tim SAR. Basarnas dan unsur SAR lainnya berfokus pada pencarian serta evakuasi korban, sementara operasi salvage harus ditangani tim yang memiliki keahlian dan perlengkapan khusus.
Kondisi KM Virgo Transport 8 di bawah laut juga membuat proses pengangkatan jauh dari sederhana. Kapal berada di kedalaman sekitar 29 meter dan sebelumnya terpantau mengalami pergeseran dari posisi awal. Pemantauan menggunakan Remotely Operated Vehicle atau ROV juga menunjukkan badan kapal masih dapat bergerak. Adanya ruang-ruang kosong di dalam kapal membuat bangkai tidak sepenuhnya stabil, sehingga pembukaan sekat maupun perubahan posisi secara tidak terkendali berpotensi menciptakan tekanan yang membahayakan penyelam.
Risiko terhadap penyelam semakin besar karena kondisi di dalam kapal terus berubah. Tim SAR melaporkan adanya benda tajam, struktur yang tidak stabil, konsentrasi gas, hingga kebocoran bahan bakar yang menghambat akses menuju sejumlah kompartemen. Penyelam juga disebut hanya dapat berada di kedalaman sekitar 27 meter selama kurang lebih 20 menit dalam kondisi tertentu. Karena itu, memasuki bagian kapal yang sempit dan tertutup tidak dapat dilakukan secara sembarangan meskipun masih terdapat korban yang diduga berada di dalam bangkai. Keselamatan penyelam tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan metode pencarian.
Sebelum pengangkatan dilakukan, kondisi kapal harus dipetakan secara rinci untuk menentukan titik pemasangan kabel, metode pembalikan, daya angkat yang diperlukan, serta kapal dan peralatan pendukung yang akan digunakan. Kementerian Perhubungan sebelumnya menyebut survei bawah air telah dilakukan bersama pemilik kapal, surveyor, adjuster, perusahaan asuransi, dan tim penyelam. ROV digunakan untuk memberikan gambaran mengenai posisi serta kondisi struktur kapal. Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan metode salvage yang dinilai paling aman.
Pengangkatan bangkai juga bukan operasi yang dapat diselesaikan hanya dalam hitungan hari. Kepala Basarnas Mohammad Syafii menyebut keseluruhan proses salvage diperkirakan membutuhkan waktu paling cepat sekitar tiga bulan karena terdapat rangkaian persiapan teknis dan keselamatan sebelum badan kapal benar-benar dapat diangkat. Namun, Basarnas mendorong agar tahapan awal segera dilakukan karena posisi kapal saat ini sangat membatasi ruang gerak penyelam. Membalikkan atau menstabilkan kapal dinilai dapat membuka akses yang lebih aman menuju kompartemen yang sebelumnya sulit dijangkau.
Desakan mempercepat salvage semakin kuat karena pencarian korban masih berlangsung. Hingga 28 September, otoritas mencatat 108 orang selamat dan jumlah korban meninggal telah mencapai 71 orang dari total 243 orang yang berada di kapal, sementara korban lainnya masih dalam pencarian. Pemerintah kini menunggu penyelesaian proses penunjukan kontraktor oleh pemilik kapal dan pihak asuransi agar operasi pengangkatan dapat memasuki tahap pelaksanaan. Dengan demikian, keterlambatan mengangkat KM Virgo Transport 8 bukan semata-mata karena kedalaman laut, melainkan kombinasi proses administrasi, pemilihan kontraktor, kompleksitas teknis, kondisi bangkai yang tidak stabil, dan tingginya risiko keselamatan.




