Jakarta, 7 September 2026 – Paparan abu vulkanik tidak hanya berisiko mengganggu saluran pernapasan dan mata, tetapi juga dapat menimbulkan masalah pada kulit wajah. Partikel abu yang sangat halus dapat menempel pada permukaan kulit, bercampur dengan keringat dan minyak, serta memicu rasa kering, gatal, kemerahan hingga iritasi. Risiko tersebut perlu mendapatkan perhatian terutama ketika abu vulkanik menyebar ke kawasan permukiman akibat aktivitas gunung api. Cara membersihkan wajah setelah terpapar abu juga tidak boleh dilakukan sembarangan karena partikel yang bersifat abrasif dapat menggesek kulit. Membersihkan wajah secara lembut menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kerusakan pada lapisan pelindung kulit.
Dokter spesialis kulit dan kelamin menyarankan masyarakat tidak langsung menggosok wajah ketika masih terdapat abu yang menempel. Abu vulkanik tersusun atas berbagai material berukuran sangat kecil yang dapat memiliki permukaan tajam dan kasar. Mengusap atau menggosok kulit terlalu kuat berpotensi menimbulkan iritasi mekanis, terutama pada pemilik kulit sensitif. Langkah awal yang lebih aman adalah membilas wajah secara perlahan menggunakan air bersih yang mengalir. Air membantu mengangkat partikel dari permukaan kulit tanpa menghasilkan gesekan berlebihan.
Setelah sebagian besar abu terbilas, wajah dapat dibersihkan menggunakan pembersih yang lembut. Produk dengan karakter ringan dan tidak mengandung bahan yang berpotensi semakin mengiritasi kulit menjadi pilihan yang lebih sesuai selama kondisi paparan abu. Pembersih cukup diaplikasikan menggunakan ujung jari dengan gerakan lembut tanpa menekan atau menggosok wajah secara berlebihan. Setelah itu, bilas kembali menggunakan air bersih hingga tidak ada sisa produk maupun abu yang tertinggal. Wajah kemudian dapat dikeringkan menggunakan handuk bersih dengan cara ditepuk perlahan, bukan digosok.
Penggunaan air dengan suhu terlalu panas juga sebaiknya dihindari. Air panas dapat menghilangkan minyak alami kulit dan membuat lapisan pelindung kulit semakin mudah mengalami gangguan. Kondisi tersebut dapat memperburuk rasa kering maupun perih yang sebelumnya sudah muncul akibat paparan abu. Air bersuhu normal atau suam-suam kuku lebih sesuai untuk membersihkan kulit dalam kondisi tersebut. Masyarakat juga tidak perlu mencuci wajah berulang kali secara berlebihan karena terlalu sering membersihkan kulit justru dapat menyebabkan kulit semakin kering.
Setelah wajah selesai dibersihkan, penggunaan pelembap dapat membantu mengembalikan kelembapan dan mendukung fungsi lapisan pelindung kulit. Produk pelembap sederhana dengan kandungan yang bersifat menenangkan dan minim pewangi dapat dipertimbangkan, khususnya bagi pemilik kulit sensitif. Pelembap sebaiknya diaplikasikan ketika kulit sudah bersih sehingga tidak ada partikel abu yang terperangkap di bawah produk. Apabila harus kembali beraktivitas di luar ruangan, perlindungan kulit juga perlu diperhatikan. Paparan abu yang berulang dapat membuat iritasi lebih sulit mereda meskipun wajah telah dibersihkan sebelumnya.
Pada periode ketika konsentrasi abu di udara masih tinggi, penggunaan produk perawatan kulit yang bersifat abrasif sebaiknya dihentikan sementara. Scrub, alat pembersih wajah dengan gesekan kuat, maupun eksfoliasi fisik dapat memperbesar risiko iritasi ketika kulit sudah terpapar partikel vulkanik. Penggunaan bahan aktif yang biasanya menimbulkan rasa perih atau mengelupas pada kulit juga perlu dilakukan dengan lebih hati-hati apabila kulit sedang mengalami kemerahan. Prioritas utama selama masa paparan adalah menjaga kebersihan sekaligus mempertahankan lapisan pelindung kulit. Rutinitas perawatan yang sederhana sering kali lebih sesuai dibandingkan menggunakan terlalu banyak produk.
Perhatian lebih besar diperlukan bagi orang yang sebelumnya mempunyai masalah kulit seperti dermatitis atopik atau eksim. Gangguan pada lapisan pelindung kulit membuat kelompok tersebut lebih rentan mengalami iritasi ketika bersentuhan dengan abu, debu, maupun bahan lingkungan lainnya. Paparan dapat menimbulkan rasa gatal, kemerahan, kulit kering, atau memperburuk keluhan yang sebelumnya sudah ada. Karena itu, mereka disarankan sebisa mungkin membatasi aktivitas di luar ruangan ketika abu masih bertebaran. Jika harus keluar rumah, perlindungan fisik terhadap wajah dan tubuh dapat membantu mengurangi kontak langsung.
Membersihkan bagian tubuh lain yang terpapar juga sama pentingnya dengan membersihkan wajah. Setelah kembali dari luar ruangan, pakaian yang terkena abu sebaiknya dilepaskan dengan hati-hati agar partikelnya tidak kembali beterbangan di dalam rumah. Tangan perlu dicuci sebelum menyentuh wajah, terutama area mata dan mulut. Rambut yang terkena abu juga perlu dibersihkan karena partikel dapat berpindah kembali ke wajah, bantal, maupun pakaian. Kebersihan lingkungan rumah ikut berperan karena abu yang mengendap pada permukaan dapat kembali terangkat ke udara apabila dibersihkan dengan cara yang tidak tepat.
Apabila abu mengenai mata, masyarakat sebaiknya tidak menguceknya meskipun muncul rasa mengganjal atau gatal. Gesekan dapat membuat partikel abu menggores permukaan mata dan meningkatkan iritasi. Mata dapat dibilas menggunakan air bersih, sedangkan pengguna lensa kontak sebaiknya melepasnya terlebih dahulu apabila memungkinkan. Keluhan berupa nyeri hebat, mata terus memerah, gangguan penglihatan, atau sensasi benda asing yang tidak kunjung hilang membutuhkan pemeriksaan tenaga medis. Prinsip serupa berlaku pada kulit apabila muncul luka, pembengkakan, ruam luas, atau iritasi berat setelah paparan.
Pencegahan tetap menjadi langkah terbaik selama abu vulkanik masih berada di udara. Masyarakat disarankan membatasi aktivitas luar ruangan apabila tidak mendesak serta menggunakan pakaian yang menutup kulit ketika harus keluar rumah. Masker yang memiliki kemampuan filtrasi baik juga diperlukan untuk mengurangi risiko menghirup partikel halus, sementara kacamata pelindung dapat membantu mengurangi masuknya abu ke mata. Setelah kembali ke dalam ruangan, tangan dan wajah perlu dibersihkan secara lembut sebelum melakukan aktivitas lainnya. Dengan membilas abu terlebih dahulu, menghindari gesekan, menggunakan pembersih ringan, dan menjaga kelembapan kulit, risiko iritasi akibat paparan abu vulkanik dapat ditekan.





