Jakarta, 13 September 2026 – Pertemanan menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan anak ketika memasuki usia sekolah. Melalui hubungan dengan teman sebaya, anak belajar berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan konflik, memahami perasaan orang lain, dan membangun kepercayaan diri. Namun, tidak semua anak mempunyai pengalaman sosial yang berjalan mulus. Ada kalanya seorang anak mulai dijauhi teman, tidak dilibatkan dalam aktivitas kelompok, atau merasa kesulitan menemukan lingkungan pertemanan yang nyaman. Kondisi tersebut terkadang tidak langsung diceritakan kepada orang tua karena anak merasa malu, takut dianggap bermasalah, atau belum mampu menjelaskan apa yang dialaminya. Karena itu, perubahan perilaku dalam keseharian dapat menjadi petunjuk yang perlu diperhatikan. Meski satu tanda saja tidak membuktikan anak sedang dikucilkan, munculnya beberapa perubahan secara bersamaan patut menjadi alasan untuk mengajak anak berbicara.
Ciri pertama yang dapat diperhatikan adalah anak tiba-tiba kehilangan semangat pergi ke sekolah. Anak yang sebelumnya bersiap tanpa masalah dapat mulai mencari berbagai alasan agar tidak berangkat, mengeluhkan sekolah secara terus-menerus, atau terlihat sangat murung menjelang hari sekolah. Pada sebagian anak, kecemasan juga dapat muncul dalam bentuk keluhan fisik seperti sakit perut atau sakit kepala, terutama sebelum berangkat. Keluhan tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai pura-pura karena tekanan emosional memang dapat memunculkan gejala fisik. Orang tua perlu melihat apakah perubahan terjadi secara konsisten dan berkaitan dengan situasi tertentu di sekolah. Percakapan yang tenang dapat membantu mengetahui apakah persoalan akademik, konflik dengan teman, perundungan, atau faktor lain menjadi penyebabnya.
Ciri kedua adalah anak semakin jarang membicarakan teman-temannya. Sebelumnya, anak mungkin sering menceritakan siapa yang duduk di sebelahnya, permainan ketika istirahat, atau pengalaman bersama teman sepulang sekolah. Ketika hubungan sosial mulai bermasalah, cerita tersebut dapat berkurang secara drastis atau menghilang. Anak juga mungkin memberikan jawaban sangat singkat ketika ditanya mengenai teman dan segera mengganti topik pembicaraan. Perubahan ini tidak selalu berarti anak sedang dijauhi karena semakin bertambah usia, sebagian anak memang menjadi lebih tertutup mengenai kehidupan sosialnya. Namun, apabila perubahan terjadi bersamaan dengan kesedihan atau keengganan pergi ke sekolah, orang tua perlu memberikan perhatian lebih. Hindari melakukan interogasi karena pendekatan tersebut justru dapat membuat anak semakin enggan bercerita.
Ciri ketiga dapat terlihat ketika anak hampir tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan sosial bersama teman sebaya. Undangan ulang tahun, belajar kelompok, bermain sepulang sekolah, atau kegiatan sederhana bersama teman dapat semakin jarang diterima. Anak mungkin juga mengatakan bahwa dirinya selalu menjadi orang terakhir yang dipilih ketika pembentukan kelompok dilakukan di sekolah. Pada era digital, pengucilan dapat terjadi melalui grup percakapan atau permainan daring ketika seorang anak sengaja tidak dilibatkan. Situasi seperti itu dapat menimbulkan perasaan tidak diterima meskipun tidak terdapat tindakan kekerasan secara langsung. Orang tua sebaiknya mencari gambaran yang lebih lengkap sebelum menyimpulkan bahwa teman-teman anak sengaja mengucilkannya. Dinamika kelompok anak dapat berubah dengan cepat dan terkadang berkaitan dengan konflik yang sebenarnya masih dapat diselesaikan.
Ciri keempat adalah munculnya perubahan emosi setelah pulang sekolah. Anak dapat terlihat lebih mudah marah, menangis, tersinggung, atau memilih mengurung diri tanpa menjelaskan penyebabnya. Sekolah merupakan lingkungan sosial yang cukup intens sehingga pengalaman tidak menyenangkan sepanjang hari dapat terbawa hingga rumah. Anak yang merasa ditolak teman juga mungkin mulai menyampaikan komentar negatif mengenai dirinya sendiri, misalnya merasa tidak disukai atau menganggap dirinya tidak mempunyai teman. Pernyataan semacam itu perlu didengarkan dengan serius tanpa langsung dibantah atau dianggap berlebihan. Orang tua dapat membantu anak mengenali perasaannya terlebih dahulu sebelum mencari solusi. Respons yang tenang memberikan pesan bahwa rumah merupakan tempat aman untuk membicarakan pengalaman yang sulit.
Ciri kelima adalah menurunnya kepercayaan diri dan berubahnya perilaku sosial anak. Anak yang sebelumnya aktif dapat menjadi lebih pendiam, menghindari kegiatan kelompok, atau takut memulai percakapan dengan orang lain. Sebagian anak bahkan dapat berhenti mengikuti ekstrakurikuler yang sebelumnya disukai karena khawatir bertemu dengan kelompok tertentu. Sebaliknya, ada pula anak yang merespons penolakan sosial dengan menjadi lebih mudah marah atau menunjukkan perilaku agresif. Perubahan tersebut tidak selalu berasal dari masalah pertemanan sehingga orang tua perlu memperhatikan konteksnya. Jika perubahan berlangsung lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, persoalan tersebut membutuhkan perhatian lebih serius.
Ketika melihat tanda-tanda tersebut, langkah pertama bukan langsung menyalahkan teman sekolah maupun anak sendiri. Orang tua perlu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi melalui percakapan yang tidak menghakimi. Pertanyaan terbuka mengenai kegiatan ketika istirahat, teman yang sering bermain bersama, atau hal paling menyenangkan dan tidak menyenangkan di sekolah dapat membuat percakapan terasa lebih alami. Berikan kesempatan kepada anak menyelesaikan ceritanya tanpa buru-buru memberikan nasihat. Anak terkadang hanya membutuhkan keyakinan bahwa pengalamannya didengar dan dianggap penting. Setelah situasinya lebih jelas, orang tua dapat menentukan apakah anak membutuhkan dukungan sederhana atau diperlukan keterlibatan pihak sekolah.
Penting pula membedakan konflik pertemanan biasa dengan perundungan. Perselisihan sesekali dapat terjadi ketika anak mempunyai perbedaan pendapat, berebut sesuatu, atau mengalami kesalahpahaman. Konflik semacam itu menjadi bagian dari proses belajar membangun hubungan apabila dapat diselesaikan secara sehat. Namun, tindakan yang dilakukan berulang kali untuk menyakiti, mempermalukan, mengancam, atau sengaja mengisolasi seorang anak membutuhkan penanganan berbeda. Perundungan juga dapat terjadi secara daring sehingga orang tua perlu memahami aktivitas digital anak tanpa mengabaikan kebutuhan privasinya. Jika terdapat indikasi perundungan, komunikasi dengan guru atau pihak sekolah perlu dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap dan memastikan keselamatan anak.
Sekolah mempunyai peranan penting karena guru dapat mengamati dinamika yang tidak terlihat oleh keluarga di rumah. Guru mungkin mengetahui dengan siapa anak bermain ketika istirahat, bagaimana interaksinya saat bekerja dalam kelompok, atau apakah terdapat perubahan perilaku di kelas. Informasi dari sekolah dapat membantu orang tua menghindari kesimpulan berdasarkan satu kejadian saja. Apabila terdapat persoalan, penyelesaian sebaiknya diarahkan pada terciptanya lingkungan yang aman dan bukan mempermalukan salah satu anak di depan teman-temannya. Pendekatan yang terlalu terbuka justru berpotensi membuat anak merasa semakin berbeda. Kerja sama antara keluarga dan sekolah menjadi penting untuk menemukan langkah yang sesuai dengan situasi.
Orang tua juga dapat membantu anak mengembangkan kesempatan pertemanan di luar kelompok yang sedang bermasalah. Kegiatan olahraga, seni, komunitas, atau aktivitas berdasarkan minat dapat mempertemukan anak dengan teman yang mempunyai kesukaan serupa. Tujuannya bukan memaksa anak menjadi populer atau mempunyai banyak teman, melainkan membantu menemukan hubungan sosial yang sehat dan nyaman. Satu atau dua pertemanan yang suportif dapat mempunyai arti besar bagi seorang anak. Kemampuan seperti memulai percakapan, mendengarkan orang lain, memahami batasan, dan menyelesaikan perbedaan juga dapat dilatih secara bertahap. Pada saat yang sama, orang tua perlu menghindari memberikan kesan bahwa anak harus mengubah seluruh kepribadiannya hanya agar diterima kelompok tertentu.
Anak yang dijauhi teman dapat mengalami dampak emosional berbeda-beda sehingga tidak semua situasi dapat diselesaikan dengan pendekatan yang sama. Apabila anak terus mengalami kesedihan, kecemasan berat, gangguan tidur, penurunan prestasi, penolakan sekolah berkepanjangan, atau perubahan perilaku yang semakin besar, bantuan profesional dapat dipertimbangkan. Psikolog anak atau tenaga kesehatan yang sesuai dapat membantu memahami faktor yang mendasari perubahan tersebut. Dukungan menjadi semakin mendesak apabila anak berbicara mengenai menyakiti diri sendiri, merasa tidak berharga, atau menunjukkan tanda bahwa keselamatannya terancam. Dalam situasi seperti itu, persoalan tidak sebaiknya dianggap sebagai fase biasa yang akan hilang dengan sendirinya. Penanganan lebih awal dapat membantu mencegah tekanan emosional berkembang semakin berat.
Lima tanda berupa enggan pergi ke sekolah, berhenti menceritakan teman, jarang dilibatkan dalam kegiatan sosial, perubahan emosi setelah sekolah, serta menurunnya kepercayaan diri dapat menjadi petunjuk bahwa kehidupan sosial anak sedang mengalami masalah. Namun, orang tua tetap perlu memahami keseluruhan situasi sebelum menyimpulkan anak benar-benar dijauhi teman. Perubahan tersebut juga dapat dipengaruhi tekanan akademik, perubahan lingkungan, masalah keluarga, atau faktor emosional lainnya. Mendengarkan tanpa menghakimi menjadi langkah awal untuk mengetahui apa yang sedang dialami anak. Jika persoalan berkaitan dengan lingkungan sekolah, komunikasi dengan guru dapat membantu menemukan gambaran yang lebih objektif. Dukungan yang tepat bukan sekadar membantu anak mendapatkan teman, tetapi juga membangun kemampuan menghadapi konflik, mempertahankan harga diri, dan membentuk hubungan sosial yang sehat.




