Jakarta, 19 September 2026 – Kemampuan berbicara dalam lebih dari satu bahasa ternyata tidak hanya berguna untuk komunikasi, tetapi juga dikaitkan dengan proses penuaan yang lebih sehat. Sebuah penelitian berskala besar yang dipublikasikan di Nature Aging menemukan bahwa multilingualisme berhubungan dengan risiko penuaan biobehavioral yang lebih rendah. Penelitian tersebut menganalisis data 86.149 orang dari 27 negara Eropa dengan membandingkan usia kronologis dan indikator yang menggambarkan kondisi kesehatan serta fungsi individu. Hasilnya menunjukkan orang yang menggunakan lebih banyak bahasa cenderung memiliki profil penuaan yang lebih baik dibandingkan kelompok monolingual. Hubungan tersebut juga terlihat dalam analisis longitudinal yang mengikuti perubahan kondisi peserta dari waktu ke waktu. Meski demikian, temuan ini menunjukkan hubungan statistik dan belum membuktikan bahwa mempelajari bahasa baru secara langsung menyebabkan otak atau tubuh menjadi lebih muda.
Peneliti menggunakan konsep biobehavioral age gap untuk menggambarkan apakah kondisi seseorang tampak mengalami penuaan lebih cepat atau lebih lambat dibandingkan usia kronologisnya. Model tersebut mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kemampuan fungsional, pendidikan, kognisi, kondisi kardiometabolik dan gangguan sensorik. Dengan pendekatan ini, penelitian tidak semata-mata mengukur perubahan struktur otak melalui pemindaian. Karena itu, istilah penuaan dalam studi tersebut lebih tepat dipahami sebagai penuaan biobehavioral yang mencakup aspek kesehatan dan fungsi, bukan sekadar “usia otak”. Multilingualisme kemudian dianalisis sebagai salah satu faktor yang berpotensi berkaitan dengan ketahanan terhadap perubahan akibat bertambahnya usia. Para peneliti menemukan pola yang konsisten bahwa kelompok multilingual memiliki risiko lebih rendah mengalami percepatan penuaan.
Temuan menarik lainnya adalah adanya pola yang berkaitan dengan jumlah bahasa yang dikuasai. Dibandingkan kelompok monolingual, individu yang berbicara satu bahasa tambahan tercatat memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami percepatan penuaan dalam analisis longitudinal. Hubungan tersebut terlihat semakin kuat pada mereka yang menggunakan dua bahasa tambahan. Orang yang berbicara tiga atau lebih bahasa tambahan menunjukkan asosiasi perlindungan yang lebih besar lagi dalam model penelitian. Secara statistik, satu bahasa tambahan dikaitkan dengan risiko sekitar 10 persen lebih rendah, dua bahasa tambahan sekitar 20 persen lebih rendah, dan tiga atau lebih bahasa tambahan sekitar 29 persen lebih rendah dibandingkan kategori rujukan dalam analisis tersebut. Pola ini membuat peneliti menduga manfaat yang berkaitan dengan multilingualisme dapat bersifat kumulatif.
Hubungan antara multilingualisme dan penuaan juga ditemukan pada kelompok usia yang berbeda. Peneliti membagi peserta menjadi kelompok usia 51–64 tahun, 65–77 tahun dan 78–90 tahun untuk mengetahui apakah pola tersebut hanya terlihat pada rentang usia tertentu. Hasil analisis menunjukkan hubungan multilingualisme dengan penuaan yang lebih sehat tetap muncul pada kelompok-kelompok tersebut. Efek yang berkaitan dengan penggunaan dua, tiga atau lebih bahasa tambahan bahkan terlihat konsisten ketika usia peserta semakin tinggi. Sebaliknya, efek dari hanya satu bahasa tambahan terlihat lebih sederhana dan cenderung berkurang pada kelompok yang lebih tua. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa pengalaman menggunakan beberapa bahasa sepanjang hidup dapat berkaitan dengan ketahanan kognitif dan fungsional pada usia lanjut.
Penelitian lain memberikan gambaran tambahan mengenai kemungkinan hubungan antara jumlah bahasa dan kemampuan kognitif. Studi terhadap 3.972 orang berusia 59 hingga 86 tahun di Belanda menemukan bahwa semakin banyak bahasa yang pernah dipelajari berkaitan dengan performa lebih baik pada seluruh tugas kognitif yang diperiksa. Pengujian tersebut mencakup kecepatan pemrosesan informasi, perhatian, memori kerja dan memori pengenalan. Hubungan itu tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan faktor demografi seperti usia, tingkat pendidikan, pendapatan dan negara kelahiran. Namun, para peneliti menekankan besarnya manfaat yang ditemukan relatif kecil dan penelitian longitudinal masih diperlukan untuk mengetahui hubungan sebab-akibat. Dengan kata lain, menguasai lebih banyak bahasa tidak dapat diperlakukan sebagai jaminan seseorang akan terhindar dari penurunan kognitif.
Salah satu penjelasan yang diajukan berkaitan dengan konsep cognitive reserve atau cadangan kognitif. Menggunakan beberapa bahasa mengharuskan seseorang memilih kosakata, menghambat bahasa yang tidak sedang digunakan, berpindah aturan linguistik dan terus memperbarui informasi sesuai konteks percakapan. Aktivitas tersebut membuat berbagai proses kognitif digunakan berulang kali dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman yang berlangsung bertahun-tahun itu diduga dapat berkontribusi terhadap kemampuan otak menghadapi perubahan yang muncul seiring bertambahnya usia. Penelitian berbasis EEG pada 2025 juga menemukan tingkat keterlibatan multilingual yang lebih tinggi berkaitan dengan pola aktivitas saraf tertentu yang lebih terjaga sepanjang proses penuaan. Namun, mekanisme biologis yang menjelaskan seluruh hubungan tersebut masih menjadi bidang penelitian aktif.
Para ilmuwan juga berusaha memastikan hubungan tersebut tidak sekadar muncul karena orang multilingual memiliki karakteristik sosial yang berbeda. Dalam penelitian terhadap 27 negara Eropa, analisis memperhitungkan sejumlah faktor pada tingkat individu maupun negara. Faktor yang diperiksa mencakup pendidikan dan kognisi serta berbagai kondisi kesehatan, sementara analisis tambahan mempertimbangkan aspek seperti imigrasi, jarak tipologis bahasa, kualitas udara dan ketimpangan sosial ekonomi. Hubungan multilingualisme dengan penuaan yang lebih lambat tetap terlihat setelah berbagai penyesuaian tersebut dilakukan. Kendati demikian, penelitian observasional tetap memiliki keterbatasan karena tidak semua faktor yang membedakan kelompok multilingual dan monolingual dapat dikendalikan secara sempurna. Karena itu, hasil penelitian lebih tepat dibaca sebagai bukti hubungan yang kuat daripada bukti bahwa bahasa merupakan penyebab tunggal perlambatan penuaan.
Temuan tersebut juga tidak berarti seseorang harus langsung menguasai banyak bahasa agar memperoleh manfaat kesehatan tertentu. Belajar bahasa merupakan aktivitas kompleks yang biasanya melibatkan latihan memori, interaksi sosial, perhatian dan proses belajar berkelanjutan. Beberapa faktor itu sendiri telah lama dipelajari dalam konteks ketahanan kognitif pada usia lanjut. Selain itu, pengalaman multilingual setiap orang dapat sangat berbeda, mulai dari usia ketika mempelajari bahasa kedua hingga seberapa sering bahasa tersebut benar-benar digunakan. Studi di Belanda menunjukkan jumlah bahasa yang dipelajari berhubungan dengan kinerja kognitif, tetapi faktor pengalaman bahasa lainnya tidak selalu menunjukkan pola yang sama. Hal tersebut menunjukkan hubungan antara bahasa dan kesehatan kognitif jauh lebih kompleks daripada sekadar menghitung berapa bahasa yang diketahui seseorang.
Secara keseluruhan, bukti terbaru memberikan dukungan bahwa multilingualisme dapat menjadi salah satu pengalaman hidup yang berkaitan dengan penuaan kognitif dan fungsional yang lebih sehat. Penelitian Nature Aging menunjukkan hubungan tersebut dalam sampel besar lintas 27 negara, sementara penelitian lain menemukan jumlah bahasa yang dipelajari berkaitan dengan kemampuan kognitif yang lebih baik pada usia lanjut. Para ilmuwan tetap membutuhkan studi jangka panjang dan eksperimen terkontrol untuk menentukan apakah belajar bahasa baru secara aktif benar-benar dapat memperlambat penurunan kognitif. Faktor seperti aktivitas fisik, kondisi kesehatan, pendidikan, hubungan sosial dan gaya hidup juga tetap berperan dalam perjalanan penuaan seseorang. Karena itu, kemampuan multilingual sebaiknya dipandang sebagai salah satu faktor potensial dalam gambaran yang jauh lebih luas mengenai penuaan sehat. Temuan yang ada setidaknya memberikan alasan ilmiah tambahan untuk terus belajar dan menggunakan bahasa sepanjang kehidupan.




