Jakarta, 12 September 2026 – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menghadiri pameran seni karya Nasirun bertajuk “Bersimpuh di Kaki Para Guru” sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian seni dan warisan budaya Indonesia. Kehadiran Kapolri dalam kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan perhatian terhadap peran seniman dalam merawat identitas dan nilai-nilai kebangsaan melalui karya. Pameran Nasirun menghadirkan karya-karya yang mempunyai hubungan kuat dengan perjalanan spiritual, penghormatan kepada guru, tradisi, serta pengalaman kebudayaan yang membentuk proses kreatif sang seniman. Melalui karya yang ditampilkan, pengunjung diajak melihat seni bukan hanya sebagai objek visual, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan ingatan dan penghormatan terhadap orang-orang yang memberikan pengetahuan. Kapolri menilai kekayaan budaya merupakan aset bangsa yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Pelestarian tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk pemerintah, aparat, seniman, komunitas budaya, dan generasi muda.
Tema “Bersimpuh di Kaki Para Guru” membawa pesan mengenai penghormatan terhadap sosok-sosok yang mempunyai peranan dalam perjalanan kehidupan maupun proses berkesenian. Guru dalam konteks tersebut tidak terbatas pada orang yang memberikan pendidikan formal, tetapi juga mereka yang memberikan pengetahuan, pengalaman, nilai kehidupan, serta inspirasi. Nasirun dikenal sebagai seniman yang banyak menggali kekayaan tradisi dan budaya dalam karya-karyanya. Pengalaman hidup kemudian diterjemahkan melalui bahasa visual yang mempunyai karakter kuat dan mudah dikenali. Pameran menjadi ruang untuk melihat hubungan antara seorang seniman dengan berbagai pengaruh yang membentuk perjalanan kreatifnya. Penghormatan terhadap guru sekaligus menjadi pengingat mengenai pentingnya proses pewarisan pengetahuan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Kapolri melihat seni dan budaya mempunyai posisi strategis dalam memperkuat kehidupan masyarakat. Indonesia mempunyai keragaman tradisi, bahasa, kesenian, dan nilai lokal yang berkembang di berbagai daerah selama ratusan tahun. Kekayaan tersebut menjadi salah satu fondasi identitas nasional yang membedakan Indonesia dari negara lain. Karena itu, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan hanya dengan menyimpan benda maupun dokumentasi sejarah. Nilai yang terkandung di dalamnya juga perlu terus diperkenalkan dan dipraktikkan agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat modern. Seniman mempunyai peranan penting karena mampu menerjemahkan nilai tersebut melalui karya yang dapat dinikmati lintas generasi. Pameran seni menjadi salah satu ruang yang memungkinkan proses tersebut terus berlangsung.
Kehadiran Kapolri dalam pameran tersebut juga membawa pesan bahwa kepolisian mempunyai hubungan dengan kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat. Tugas menjaga keamanan tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari upaya memahami karakter masyarakat yang dilayani. Budaya lokal dapat menjadi salah satu unsur yang memperkuat hubungan sosial dan membantu menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis. Ketika masyarakat mempunyai ruang untuk mempertahankan identitas budaya, rasa memiliki terhadap lingkungan dan komunitas juga dapat semakin kuat. Kondisi sosial yang sehat pada akhirnya mempunyai hubungan dengan terciptanya keamanan dan ketertiban. Pendekatan tersebut membuat pelestarian budaya dapat dilihat sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang kuat secara menyeluruh.
Nasirun sendiri mempunyai perjalanan panjang dalam dunia seni rupa Indonesia. Karya-karyanya banyak menghadirkan simbol, figur, cerita tradisional, serta pengalaman personal yang kemudian diolah melalui pendekatan visual khas. Unsur budaya Jawa menjadi salah satu pengaruh yang cukup kuat dalam berbagai karyanya, meskipun interpretasinya terus berkembang mengikuti perjalanan kreatif sang seniman. Pameran “Bersimpuh di Kaki Para Guru” memberikan ruang bagi Nasirun untuk merefleksikan hubungan dengan berbagai tokoh yang dianggap memberikan pengaruh terhadap kehidupannya. Proses tersebut membuat karya tidak hanya berbicara mengenai estetika, tetapi juga mengenai rasa hormat dan perjalanan belajar. Pengunjung dapat melihat bagaimana pengalaman seorang seniman dapat berubah menjadi catatan kebudayaan melalui karya visual.
Pesan mengenai penghormatan kepada guru juga dinilai relevan di tengah perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat. Kemajuan teknologi membuat masyarakat memperoleh informasi dengan mudah, tetapi proses pembentukan karakter tetap membutuhkan keteladanan dan hubungan antarmanusia. Guru mempunyai posisi penting dalam memberikan nilai, pengalaman, serta arah kepada generasi berikutnya. Dalam dunia seni, proses belajar bahkan dapat berlangsung sepanjang kehidupan karena seniman terus menemukan inspirasi dari manusia, lingkungan, tradisi, maupun pengalaman baru. Sikap menghargai guru menunjukkan bahwa pencapaian seseorang tidak sepenuhnya terbentuk secara individual. Ada pengetahuan dan pengalaman dari generasi sebelumnya yang menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Pelestarian seni juga menghadapi tantangan ketika generasi muda semakin dekat dengan budaya digital dan arus informasi global. Kondisi tersebut sebenarnya dapat menjadi peluang apabila teknologi digunakan untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada audiens yang lebih luas. Dokumentasi digital, pameran virtual, media sosial, dan berbagai platform kreatif memungkinkan karya seni menjangkau masyarakat tanpa dibatasi wilayah. Namun, perkembangan tersebut tetap membutuhkan pemahaman terhadap konteks dan nilai budaya yang menjadi dasar sebuah karya. Tanpa proses tersebut, kebudayaan berisiko hanya diperlakukan sebagai elemen visual tanpa memahami makna yang terkandung di dalamnya. Pendidikan dan ruang pertemuan antara seniman dengan generasi muda karena itu menjadi semakin penting.
Pameran seni mempunyai fungsi strategis sebagai tempat pertemuan antara karya, seniman, dan masyarakat. Pengunjung tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi dapat memahami perjalanan pemikiran yang berada di belakang sebuah karya. Dialog semacam itu membantu seni tetap hidup dan tidak terpisah dari perkembangan masyarakat. Kehadiran tokoh publik juga dapat memperluas perhatian terhadap kegiatan kebudayaan yang selama ini mungkin hanya dikenal oleh kelompok tertentu. Dukungan terhadap pameran dapat mendorong semakin banyak masyarakat datang dan mengenal karya seniman Indonesia. Pada saat yang sama, ruang seni dapat menjadi tempat untuk membangun percakapan mengenai identitas, sejarah, dan nilai kehidupan.
Upaya mengawal warisan budaya juga membutuhkan kesinambungan antara pelestarian dan regenerasi. Karya serta tradisi yang telah diwariskan perlu didokumentasikan, tetapi generasi baru juga harus mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan interpretasinya sendiri. Budaya yang hidup akan terus berubah tanpa harus kehilangan akar yang membentuk identitasnya. Seniman muda dapat mengambil inspirasi dari tradisi kemudian mengolahnya menggunakan bahasa visual yang sesuai dengan perkembangan zaman. Dukungan terhadap ruang kreatif menjadi penting agar proses tersebut tidak terputus. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, lembaga pendidikan, seniman, dan masyarakat dapat memperluas ekosistem kebudayaan Indonesia.
Kehadiran Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam pameran Nasirun “Bersimpuh di Kaki Para Guru” pada akhirnya menjadi momentum untuk kembali menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya Indonesia. Seni tidak hanya mempunyai nilai estetika, tetapi juga menyimpan pengetahuan, sejarah, identitas, dan pengalaman antargenerasi. Pesan penghormatan kepada guru yang diangkat Nasirun menunjukkan bahwa kebudayaan berkembang melalui proses belajar dan pewarisan nilai yang berlangsung terus-menerus. Dukungan terhadap seniman dan ruang kebudayaan diperlukan agar kekayaan tersebut tetap dikenal masyarakat di tengah perubahan zaman. Generasi muda juga mempunyai peranan besar untuk mempelajari sekaligus mengembangkan warisan yang telah diterima. Dengan keterlibatan berbagai pihak, seni dan budaya Indonesia diharapkan tetap menjadi bagian kuat dari identitas bangsa sekaligus terus berkembang mengikuti perjalanan masyarakat.




