Jakarta, 3 September 2026 – Brigadir Jenderal Polisi Hengki Haryadi memasuki babak baru dalam perjalanan kariernya setelah dipercaya menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah Papua Barat Daya. Perwira tinggi Polri tersebut ditunjuk menggantikan Brigjen Pol Yulius Audie Sonny Latuheru dalam rotasi sejumlah pejabat di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Penunjukan Hengki tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1877/VIII/KEP./2026 tertanggal 30 Agustus 2026. Sebelum mendapatkan promosi sebagai Kapolda Papua Barat Daya, Hengki menjalankan tugas sebagai Wakapolda Riau sejak akhir 2025. Pengalaman panjangnya dalam bidang reserse dan penegakan hukum menjadi salah satu bagian yang menonjol dalam perjalanan kariernya. Jabatan baru tersebut sekaligus menempatkan Hengki sebagai salah satu pimpinan kepolisian daerah yang bertanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban di provinsi termuda Indonesia.
Hengki Haryadi lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 16 Oktober 1974 dan menghabiskan sebagian masa mudanya di Kota Metro, Lampung. Latar belakang pendidikan Hengki sudah cukup menonjol sejak tingkat sekolah menengah karena dirinya tercatat sebagai alumnus SMA Taruna Nusantara di Magelang. Ia merupakan bagian dari angkatan 1993 sekolah tersebut yang dikenal banyak menghasilkan tokoh dari berbagai bidang. Pada 1991, ketika masih berada pada jenjang pendidikan menengah, Hengki juga pernah mendapatkan kesempatan menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di Istana Negara. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Taruna Nusantara, Hengki memilih mengikuti pendidikan kepolisian sebagai jalan kariernya. Ia kemudian diterima di Akademi Kepolisian dan menyelesaikan pendidikan sebagai lulusan Akpol 1996.
Perjalanan pendidikan Hengki tidak berhenti setelah menyelesaikan Akademi Kepolisian. Dalam pengembangan kariernya sebagai perwira, ia mengikuti pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian serta Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah. Hengki juga mengikuti Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi atau Sespimti sebagai bagian dari pendidikan pengembangan kepemimpinan bagi perwira Polri. Pada pendidikan Sespimti tahun 2020, Hengki berhasil mendapatkan predikat sebagai siswa terbaik umum. Pendidikan tersebut semakin melengkapi pengalaman lapangannya yang sebagian besar berkembang dalam bidang reserse, penyidikan, dan penegakan hukum. Kombinasi pendidikan kepemimpinan serta pengalaman operasional kemudian membawanya mendapatkan berbagai penugasan strategis di tubuh Polri.
Karier Hengki dimulai dari berbagai penugasan lapangan setelah dirinya menyelesaikan pendidikan Akpol. Salah satu penempatan awalnya adalah sebagai Pamapta II Polres Dili pada 1997 ketika wilayah tersebut masih berada dalam yurisdiksi Indonesia. Setahun kemudian, ia mendapatkan penugasan sebagai Kasat Lantas Polres Manatuto dan selanjutnya Kasat Lantas Polres Dili pada 1999. Perjalanan kariernya kemudian membawanya ke Polda Lampung dan sejumlah satuan kewilayahan. Hengki pernah dipercaya menjadi Kasat Reskrim Polres Tulang Bawang pada 2004 dan Kapolsek Telukbetung Selatan pada 2005. Pada 2006, dirinya mengemban tugas sebagai Kasat Reskrim Poltabes Bandar Lampung yang semakin memperkuat pengalamannya dalam bidang penyidikan kriminal.
Nama Hengki kemudian semakin dikenal ketika mendapatkan berbagai penugasan di lingkungan Polda Metro Jaya. Ia pernah mengemban jabatan sebagai Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat dan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat. Pengalaman menangani berbagai kasus kriminal di kawasan metropolitan menjadi bagian penting dalam pembentukan kariernya sebagai perwira reserse. Hengki selanjutnya mendapatkan kepercayaan memimpin Polres Pelabuhan Tanjung Priok sebelum kembali memperoleh sejumlah jabatan strategis lainnya. Pada 2016, dirinya tercatat pernah mengemban posisi Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Setahun kemudian, Hengki mendapatkan promosi menjadi Kapolres Metro Jakarta Barat dan memimpin wilayah tersebut hingga beberapa tahun berikutnya.
Ketika bertugas di Jakarta Barat, nama Hengki cukup sering mendapatkan perhatian karena penanganannya terhadap kasus premanisme dan kriminalitas. Salah satu peristiwa yang membuat namanya dikenal luas adalah penanganan kelompok yang dipimpin Rosario de Marshall alias Hercules. Hengki pernah terlibat dalam operasi terhadap kelompok Hercules ketika bertugas sebagai pejabat reserse dan kembali menangani persoalan premanisme ketika memimpin Polres Metro Jakarta Barat. Selain itu, dirinya menangani berbagai perkara narkotika, kejahatan jalanan, dan kasus lain yang menjadi perhatian masyarakat. Pengalaman tersebut membuat Hengki dikenal sebagai perwira dengan latar belakang kuat dalam bidang reserse. Penanganan berbagai perkara besar juga menjadi bagian dari rekam jejak yang kemudian membawanya menuju jabatan lebih tinggi.
Hengki selanjutnya dipercaya menjadi Kapolres Metro Jakarta Pusat pada 2020 hingga 2021. Posisi tersebut memiliki tantangan tersendiri karena Jakarta Pusat mencakup berbagai objek vital pemerintahan, kawasan bisnis, pusat kegiatan masyarakat, serta lokasi yang kerap menjadi tempat penyampaian aspirasi publik. Setelah menyelesaikan tugas sebagai Kapolres, perjalanan karier Hengki kembali berlanjut pada level Polda Metro Jaya. Ia kemudian dipercaya menduduki posisi Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya pada 2022. Jabatan tersebut menempatkannya dalam penanganan berbagai perkara kriminal besar yang terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Pengalaman memimpin direktorat reserse semakin memperkuat rekam jejak Hengki sebelum mendapatkan penugasan pada tingkat yang lebih tinggi.
Setelah bertugas di Polda Metro Jaya, Hengki juga mendapatkan penugasan sebagai Penyidik Utama Tingkat II Bareskrim Polri. Kariernya kemudian bergerak menuju jajaran pimpinan kepolisian daerah ketika dirinya dipercaya sebagai Wakapolda Riau pada Desember 2025. Posisi tersebut membuat ruang lingkup tanggung jawab Hengki tidak lagi hanya berfokus pada bidang reserse, tetapi mencakup pengelolaan organisasi kepolisian secara lebih luas. Sebagai Wakapolda, ia mendampingi Kapolda dalam mengoordinasikan berbagai fungsi mulai dari pemeliharaan keamanan, penegakan hukum, pelayanan masyarakat hingga pengawasan internal. Sekitar delapan bulan setelah mendapatkan tugas tersebut, Hengki kembali memperoleh promosi. Kapolri kemudian menunjuknya sebagai Kapolda Papua Barat Daya melalui rotasi yang diumumkan pada akhir Agustus 2026.
Sebagai Kapolda Papua Barat Daya, Hengki menghadapi karakter penugasan yang berbeda dibandingkan pengalaman panjangnya di Jakarta maupun Riau. Papua Barat Daya merupakan provinsi baru dengan wilayah yang mencakup Kota Sorong serta sejumlah kabupaten di kawasan Kepala Burung Papua. Kondisi geografis, konektivitas antardaerah, keberagaman masyarakat, pembangunan wilayah baru, hingga dinamika keamanan menjadi bagian dari tantangan yang harus dikelola kepolisian. Kapolda juga harus membangun koordinasi erat dengan pemerintah daerah, TNI, tokoh adat, tokoh agama, serta berbagai kelompok masyarakat. Pendekatan keamanan tidak hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga membutuhkan komunikasi dan kemampuan memahami karakter sosial masing-masing wilayah. Pengalaman kepemimpinan Hengki di sejumlah satuan kepolisian akan diuji dalam lingkungan tugas yang memiliki karakter berbeda tersebut.
Pergantian pimpinan Polda Papua Barat Daya merupakan bagian dari rotasi besar yang dilakukan Polri terhadap ratusan perwira tinggi dan perwira menengah pada akhir Agustus 2026. Brigjen Yulius Audie Sonny Latuheru yang sebelumnya menjabat Kapolda mendapatkan penugasan baru sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri. Sementara posisi Wakapolda Riau yang ditinggalkan Hengki selanjutnya dipercayakan kepada Brigjen Pol Simson Zet Ringu. Polri secara berkala melakukan mutasi untuk memenuhi kebutuhan organisasi sekaligus memberikan ruang pengembangan karier kepada para perwira. Pergeseran jabatan juga mempertimbangkan kompetensi dan pengalaman yang dibutuhkan pada masing-masing wilayah. Bagi Hengki, promosi tersebut merupakan peningkatan tanggung jawab karena dirinya kini menjadi pemimpin tertinggi jajaran kepolisian di tingkat provinsi.
Penunjukan Brigjen Hengki Haryadi sebagai Kapolda Papua Barat Daya pada akhirnya menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan hampir tiga dekade kariernya di kepolisian. Lulusan SMA Taruna Nusantara 1993 dan Akpol 1996 tersebut memiliki perjalanan panjang mulai dari penugasan awal di Dili, berbagai jabatan reserse di Lampung dan Jakarta, Kapolres, Dirreskrimum Polda Metro Jaya, hingga Wakapolda Riau. Pendidikan kepemimpinan yang ditempuh melalui PTIK, Sespimen, dan Sespimti turut melengkapi pengalaman operasionalnya, termasuk keberhasilannya menjadi siswa terbaik umum Sespimti pada 2020. Kini, tantangan Hengki bergeser dari dominasi tugas reserse menuju tanggung jawab yang lebih luas sebagai Kapolda. Ia harus memastikan keamanan, pelayanan kepolisian, penegakan hukum, serta hubungan dengan masyarakat dapat berjalan secara seimbang. Kepemimpinannya di Papua Barat Daya akan menjadi babak baru yang menentukan perjalanan berikutnya sebagai salah satu perwira tinggi Polri.





