Jakarta, 2 September 2026 – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian serius di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Jambi dan Sumatera Selatan. Kondisi kemarau yang panjang membuat lahan, terutama kawasan gambut, semakin mudah terbakar dan menyulitkan proses pemadaman. Tim gabungan terus melakukan penanganan melalui operasi darat dan udara untuk mencegah api meluas ke area lain.
Upaya dari udara dilakukan dengan mengerahkan helikopter water bombing untuk menjatuhkan air langsung ke titik-titik api yang sulit dijangkau petugas di darat. Dalam operasi penanganan karhutla di sejumlah provinsi prioritas, volume air yang telah dijatuhkan mencapai jutaan liter. Hingga 29 Agustus, Satgas Udara tercatat telah melakukan water bombing dengan sekitar 3,5 juta liter air, sementara operasi sebelumnya juga telah menggunakan 4,6 juta liter air untuk penanganan di wilayah prioritas.
Jambi dan Sumatera Selatan termasuk daerah yang mendapatkan penguatan operasi udara karena aktivitas karhutla masih terpantau. Di Jambi, dukungan helikopter water bombing terus dilakukan untuk membantu petugas yang bekerja di lapangan. Operasi serupa juga diperkuat di Sumatera Selatan dengan pengerahan sejumlah armada patroli dan helikopter pemadam. Strategi tersebut dilakukan untuk menekan titik api sekaligus mencegah kebakaran menjalar lebih luas.
Penanganan karhutla menjadi semakin berat karena sebagian wilayah yang terbakar merupakan lahan gambut. Api yang masuk ke dalam lapisan gambut tidak selalu terlihat dari permukaan sehingga membutuhkan air dalam jumlah besar dan proses pendinginan yang lebih lama. Kondisi tersebut juga membuat api berpotensi kembali muncul meskipun kobaran di permukaan telah berhasil dipadamkan.
Selain persoalan karakteristik lahan, petugas menghadapi keterbatasan sumber air di sejumlah lokasi. Musim kemarau membuat beberapa sumber air mengalami penyusutan, sementara jaraknya dengan titik kebakaran cukup jauh. Faktor cuaca dan jarak pandang juga dapat menghambat operasi udara, terutama ketika asap tebal berada di sekitar lokasi kebakaran.
Penanganan tidak hanya mengandalkan helikopter. Personel gabungan dari berbagai unsur tetap melakukan pemadaman melalui jalur darat dengan menyasar titik api yang dapat dijangkau secara langsung. Upaya tersebut sekaligus dilakukan untuk memastikan bara yang masih berada di dalam tanah tidak kembali menjadi kebakaran terbuka.
Di tingkat daerah, dampak karhutla juga mulai berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Pemerintah Kota Jambi sebelumnya telah mengambil sejumlah langkah untuk menghadapi kondisi kekeringan dan kabut asap, termasuk distribusi air bersih dan pembagian masker. Pemerintah setempat juga memperkuat kesiapsiagaan karena kekeringan dan karhutla dapat terjadi secara bersamaan dan menimbulkan tekanan terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
Data sementara menunjukkan skala persoalan karhutla di Jambi cukup besar. Dalam periode 1 Januari hingga 29 Agustus 2026, luas karhutla di Provinsi Jambi tercatat mencapai sekitar 1.776,56 hektare dengan 531 kejadian. Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan titik api baru menjadi sama pentingnya dengan pemadaman kebakaran yang sudah berlangsung.
Pemerintah dan tim gabungan kini terus memperkuat patroli, pemadaman darat, operasi water bombing, serta langkah pencegahan agar kebakaran tidak kembali meluas. Penanganan juga diarahkan untuk menjaga wilayah yang telah berhasil dipadamkan agar tidak muncul titik api baru. Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, kewaspadaan di Jambi, Sumatera Selatan, dan wilayah rawan lainnya diperkirakan tetap menjadi prioritas dalam beberapa waktu ke depan.




