Jakarta, 27 Oktober 2026 – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) segera melakukan uji coba teknologi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan bahan berbasis tepung atau pati singkong. Inovasi tersebut dikembangkan dengan mencampurkan pati singkong dan senyawa amonium polifosfat atau ammonium polyphosphate (APP) untuk membantu mengendalikan penyebaran api. Kepala BRIN Arif Satria menyatakan bahwa persiapan pengujian telah memasuki tahap akhir dan direncanakan berlangsung pada pekan ini. Pelaksanaan uji coba akan melibatkan koordinasi dengan TNI Angkatan Udara serta sejumlah lembaga terkait penanggulangan bencana. Pengembangan teknologi tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah dalam mencari metode tambahan untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan yang masih menjadi ancaman di sejumlah wilayah Indonesia.
+1
Arif Satria menyampaikan perkembangan tersebut kepada wartawan sebelum mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa BRIN telah melakukan koordinasi dengan TNI Angkatan Udara untuk mempersiapkan personel dan kebutuhan teknis pelaksanaan pengujian. Menurut Arif, kesiapan tersebut memungkinkan penelitian memasuki tahap percobaan langsung di lapangan dalam waktu dekat. BRIN juga telah memperoleh bahan baku APP yang diperlukan sebagai komponen penting dalam formulasi pemadam berbasis singkong. Senyawa tersebut sebelumnya telah menjalani pengujian awal di lokasi sehingga dapat digunakan untuk mendukung tahap pengembangan berikutnya.
Penggunaan tepung singkong sebagai bahan pemadam kebakaran merupakan bagian dari penelitian mengenai material retardan api berbasis sumber daya alam. Pati singkong memiliki karakteristik yang dapat dimanfaatkan untuk membantu mempertahankan cairan pada permukaan bahan yang mudah terbakar. Ketika dikombinasikan dengan APP dan komponen pendukung lainnya, formulasi tersebut dirancang untuk memperlambat proses pembakaran serta meningkatkan efektivitas penggunaan air. Pendekatan ini berbeda dari pemadaman konvensional yang terutama mengandalkan penyemprotan air untuk menurunkan suhu bahan bakar. Meski memiliki potensi berdasarkan kajian ilmiah, efektivitas campuran tersebut dalam berbagai kondisi kebakaran masih perlu dibuktikan melalui pengujian yang terukur.
BRIN – Badan Riset dan Inovasi Nasional
Peneliti BRIN sebelumnya menjelaskan bahwa pati singkong dapat dimodifikasi secara kimia untuk meningkatkan kemampuannya melekat pada permukaan vegetasi. Karakteristik tersebut memungkinkan cairan pemadam bertahan lebih lama sehingga proses pendinginan dapat berlangsung lebih efektif. Sementara itu, amonium polifosfat bekerja melalui mekanisme kimia yang dapat mendorong terbentuknya lapisan karbon ketika material terkena panas. Lapisan tersebut berpotensi menghambat perpindahan panas dan mengurangi kontak langsung antara bahan yang mudah terbakar dengan oksigen. Kombinasi mekanisme pendinginan, pembasahan, dan perlambatan reaksi pembakaran menjadi dasar pengembangan teknologi pemadam berbasis singkong. Namun, keberhasilannya tetap dipengaruhi konsentrasi bahan, kondisi vegetasi, intensitas api, dan metode penyemprotan.
Pengujian lapangan menjadi tahap penting karena karakteristik kebakaran hutan dan lahan berbeda dari percobaan yang dilakukan dalam lingkungan laboratorium. Pada lahan gambut, misalnya, api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan menyimpan panas meskipun kobaran api di bagian atas telah berkurang. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan yang mampu menjangkau sumber panas serta mencegah munculnya titik api baru. BRIN perlu mengevaluasi kemampuan campuran pati singkong dan APP dalam menghadapi kondisi tersebut sebelum teknologi digunakan secara luas. Selain efektivitas pemadaman, pengujian juga harus memperhatikan kestabilan bahan, kemudahan penyemprotan, serta dampaknya terhadap tanah dan lingkungan sekitar.
BRIN – Badan Riset dan Inovasi Nasional
Arif Satria menjelaskan bahwa BRIN juga sedang meneliti kemungkinan penggunaan bahan lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap amonium polifosfat impor. Pengembangan tersebut dilakukan karena ketersediaan bahan baku menjadi salah satu faktor penting apabila teknologi nantinya diterapkan dalam skala besar. Pemanfaatan sumber daya domestik berpotensi memberikan keuntungan dari sisi rantai pasok dan keberlanjutan produksi. Meski demikian, bahan pengganti harus memiliki karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan pemadaman dan memenuhi standar keselamatan. Karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk menentukan formulasi yang efektif, ekonomis, serta dapat diproduksi secara konsisten.
Media Indonesia
Selain mengembangkan bahan pemadam berbasis singkong, BRIN menyiapkan sejumlah inovasi lain untuk mendukung operasi modifikasi cuaca atau OMC. Salah satu teknologi yang akan diuji adalah Dumikron, yakni material berupa partikel natrium klorida atau garam dengan ukuran sekitar dua hingga lima mikron. Partikel tersebut dikembangkan untuk mendukung proses penyemaian awan dalam kegiatan modifikasi cuaca. BRIN juga mempersiapkan pengujian teknologi Cloud Seeding Agent Tube atau coSAT sebagai salah satu perangkat pendukung operasi penyemaian awan. Penggunaan es kering atau dry ice turut menjadi bagian dari pendekatan yang sedang diterapkan dalam upaya mendukung pembentukan hujan pada kondisi atmosfer yang memungkinkan.
Pelaksanaan berbagai inovasi tersebut membutuhkan koordinasi antarlembaga karena penanganan karhutla melibatkan aspek penelitian, penerbangan, kebencanaan, dan meteorologi. BRIN telah menjalin kerja sama dengan TNI Angkatan Udara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Kementerian Perhubungan. Koordinasi tersebut diperlukan untuk memastikan kesiapan sarana penerbangan, personel, dan prosedur keselamatan selama pengujian berlangsung. Arif juga menyampaikan rencana pertemuan dengan Menteri Perhubungan untuk mempercepat persiapan teknis pelaksanaan program. Kolaborasi tersebut diharapkan membantu mempercepat pemanfaatan hasil penelitian tanpa mengabaikan kebutuhan validasi ilmiah dan keselamatan operasional.
inilah.com
Pengembangan teknologi pemadam berbasis singkong menjadi perhatian karena kebakaran hutan dan lahan masih menimbulkan dampak terhadap lingkungan, kesehatan, serta aktivitas ekonomi masyarakat. Asap akibat karhutla dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan. Kebakaran juga berpotensi merusak ekosistem, mengganggu aktivitas transportasi, serta menimbulkan kerugian pada sektor pertanian dan perkebunan. Karena itu, inovasi pemadaman perlu dikembangkan bersama langkah pencegahan seperti pemantauan titik panas, pengelolaan lahan, dan penanganan dini ketika kebakaran mulai terdeteksi. Teknologi baru yang berhasil diuji diharapkan dapat melengkapi metode pemadaman yang sudah digunakan oleh petugas di lapangan.
BRIN menegaskan bahwa penggunaan pati singkong dan APP masih memerlukan pembuktian lebih lanjut sebelum dapat diterapkan secara luas dalam operasi pemadaman karhutla. Hasil uji lapangan nantinya akan menjadi dasar untuk menilai kemampuan teknologi dalam mengurangi penyebaran api, meningkatkan efisiensi penggunaan air, serta menjaga keselamatan lingkungan. Pengembangan bahan lokal juga menjadi perhatian agar inovasi dapat diproduksi secara berkelanjutan apabila terbukti efektif. Pemerintah berharap kolaborasi antara lembaga penelitian, aparat, dan instansi penanggulangan bencana mampu mempercepat penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Dengan persiapan pengujian yang dijadwalkan berlangsung pada pekan ini, penelitian pemadam berbasis singkong memasuki tahap penting untuk menentukan potensi pemanfaatannya dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan pada masa mendatang.




