Jakarta, 9 September 2026 – Sejumlah potret kucing yang tubuhnya tertutup abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian masyarakat di media sosial. Dalam beberapa unggahan yang beredar, kucing berbulu putih terlihat berubah menjadi keabu-abuan setelah berada di lingkungan yang terkena paparan abu. Material halus tampak menempel mulai dari bagian kepala, punggung, kaki hingga ekor sehingga penampilan hewan tersebut terlihat sangat berbeda dibandingkan kondisi normal. Sebagian warganet sempat memberikan komentar bernada lucu terhadap perubahan warna bulu itu. Namun, di balik potret yang menarik perhatian tersebut terdapat risiko kesehatan yang perlu diperhatikan oleh pemilik hewan.
Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau dilaporkan mencapai sejumlah wilayah setelah aktivitas erupsi meningkat sejak Jumat malam, 4 September 2026. Abu terpantau menjangkau Banten, DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat, Lampung, hingga wilayah lainnya di Sumatera. Material vulkanik tidak hanya terlihat menempel pada jalan, kendaraan, halaman, dan bangunan, tetapi juga mengenai hewan yang beraktivitas di luar rumah. Kucing yang sering berkeliaran di halaman maupun jalan menjadi salah satu hewan yang berpotensi mengalami paparan langsung. Kondisi tersebut kemudian mendorong sejumlah pemilik hewan membagikan foto maupun video peliharaan mereka di media sosial.
Salah satu potret yang banyak menarik perhatian memperlihatkan kucing berbulu putih dengan sebagian besar tubuh berubah menjadi abu-abu. Lapisan material vulkanik terlihat jelas pada permukaan bulu sehingga warna aslinya hampir tidak terlihat di beberapa bagian. Kondisi serupa ditemukan dalam sejumlah video kucing yang berada di kawasan terdampak. Bahkan terdapat rekaman yang memperlihatkan partikel seperti debu keluar dari bulu ketika kucing menggaruk tubuhnya. Situasi tersebut menunjukkan material halus dapat tersimpan cukup banyak di antara lapisan bulu apabila hewan berada cukup lama di lingkungan terbuka.
Potret lainnya memperlihatkan pemilik mencoba memberikan perlindungan kepada kucing menggunakan masker. Pemandangan tersebut menarik perhatian karena ukuran masker manusia umumnya terlalu besar untuk wajah kucing dan dapat menutupi sebagian besar kepala mereka. Walaupun terlihat menggemaskan dalam foto, penggunaan masker manusia pada hewan bukan solusi utama untuk menghindari paparan abu vulkanik. Cara yang lebih aman adalah memindahkan hewan ke dalam ruangan yang bersih dan membatasi aktivitasnya di luar rumah ketika abu masih beterbangan. Pintu dan jendela juga dapat ditutup sementara untuk mengurangi masuknya material vulkanik.
Abu vulkanik berbeda dengan debu rumah tangga yang biasa ditemukan pada lantai maupun perabot. Material tersebut terdiri atas fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat kecil yang dapat memiliki permukaan kasar serta tajam. Partikel halus dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan apabila terhirup dalam jumlah tertentu. Risiko tersebut tidak hanya berlaku bagi manusia, tetapi juga perlu diperhatikan pada hewan peliharaan. Kucing yang mengalami paparan cukup banyak dapat menunjukkan ketidaknyamanan pada mata, hidung, kulit maupun sistem pernapasan.
Karakter kucing yang secara rutin melakukan grooming menimbulkan persoalan tambahan ketika bulunya dipenuhi abu. Hewan tersebut memiliki kebiasaan menjilati tubuh untuk membersihkan bulu sehingga material yang menempel berpotensi ikut masuk ke mulut dan tertelan. Semakin banyak abu yang menempel, semakin besar pula kemungkinan partikel ikut masuk ketika kucing membersihkan dirinya sendiri. Karena itu, pemilik sebaiknya tidak membiarkan hewan membersihkan lapisan abu dalam jumlah banyak hanya melalui grooming. Membersihkan tubuh kucing secara hati-hati menjadi langkah yang lebih tepat setelah hewan dipindahkan ke lingkungan yang aman.
Proses pembersihan juga perlu dilakukan dengan cara yang tidak membuat abu kembali beterbangan. Mengibaskan atau menyikat bulu kucing ketika masih kering dapat menyebabkan partikel halus terangkat ke udara dan berpotensi terhirup oleh hewan maupun orang yang membersihkannya. Permukaan bulu dapat terlebih dahulu dilembapkan secara perlahan agar abu tidak mudah beterbangan. Pemilik kemudian dapat mengusap tubuh menggunakan kain atau handuk lembap dengan gerakan lembut. Jika paparan cukup berat, pembersihan lebih menyeluruh dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi dan toleransi kucing terhadap air.
Bagian mata membutuhkan perhatian khusus karena abu vulkanik dapat menimbulkan iritasi. Apabila terdapat partikel di sekitar mata, pemilik sebaiknya tidak menggosoknya karena material kasar dapat memperparah iritasi pada permukaan mata. Pembilasan secara perlahan menggunakan cairan yang aman dapat membantu membersihkan material yang berada di sekitar area tersebut. Apabila kucing terus menyipitkan mata, mengalami kemerahan, mengeluarkan air mata berlebihan atau terlihat kesakitan, pemeriksaan oleh dokter hewan perlu dipertimbangkan. Gejala yang tidak membaik setelah paparan tidak sebaiknya dianggap sekadar akibat bulu yang kotor.
Saluran pernapasan menjadi aspek lain yang perlu dipantau setelah kucing berada di lingkungan penuh abu. Pemilik dapat memperhatikan munculnya batuk, bersin terus-menerus, napas berbunyi, kesulitan bernapas, tubuh sangat lemas atau perubahan perilaku yang tidak biasa. Hewan yang mempunyai riwayat gangguan pernapasan membutuhkan perhatian lebih karena paparan partikel dapat memperburuk kondisinya. Kucing berusia sangat muda maupun lanjut usia juga dapat memiliki kerentanan lebih besar. Apabila muncul kesulitan bernapas atau kondisi hewan memburuk, pertolongan dokter hewan sebaiknya segera dicari.
Selain membersihkan tubuh hewan, lingkungan tempat tinggal juga perlu mendapatkan perhatian. Abu yang menumpuk di lantai, teras, tempat tidur hewan, wadah makanan dan tempat minum dapat menyebabkan paparan berulang meskipun tubuh kucing sudah dibersihkan. Air minum yang ditempatkan di luar rumah sebaiknya diganti apabila terdapat kemungkinan terkena abu. Makanan yang dibiarkan terbuka di lingkungan terdampak juga sebaiknya tidak diberikan kepada hewan. Membersihkan tempat tinggal dengan metode yang meminimalkan debu beterbangan dapat membantu mengurangi kemungkinan kucing kembali terpapar.
Perhatian juga diperlukan terhadap kucing liar yang tidak mempunyai tempat berlindung tetap. Berbeda dengan hewan peliharaan yang dapat segera dimasukkan ke rumah, kucing jalanan kemungkinan tetap berada di luar ketika abu turun. Masyarakat yang memungkinkan dapat menyediakan area berlindung sementara yang terlindung dari abu serta memberikan air minum bersih. Pertolongan tersebut perlu dilakukan dengan tetap memperhatikan keselamatan orang yang berada di wilayah terdampak. Hewan yang terlihat mengalami gangguan pernapasan berat, cedera mata atau kondisi sangat lemah dapat membutuhkan bantuan tenaga kesehatan hewan.
Berbagai foto kucing yang beredar setelah erupsi Anak Krakatau akhirnya bukan sekadar memperlihatkan perubahan warna bulu akibat abu. Potret tersebut menjadi pengingat bahwa dampak material vulkanik juga dapat dirasakan hewan yang tinggal di kawasan terdampak. Membatasi aktivitas di luar ruangan, menyediakan air dan makanan yang terlindungi, serta segera membersihkan abu dari tubuh menjadi beberapa langkah yang dapat dilakukan pemilik. Kebiasaan kucing menjilati bulunya membuat pembersihan menjadi semakin penting agar material tidak ikut tertelan dalam jumlah banyak. Selama kondisi abu belum sepenuhnya mereda, menjaga kucing berada di lingkungan dalam ruangan yang bersih menjadi pilihan paling sederhana untuk mengurangi paparan lanjutan.




