Jakarta, 14 Mei 2026 – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam upaya pencegahan krisis ekologis dan bencana alam di Indonesia. Menurutnya, penanganan persoalan lingkungan tidak dapat dilakukan secara parsial karena berbagai masalah ekologis saling berkaitan dan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Dalam keterangannya, Kepala BRIN menyebut perubahan iklim, kerusakan hutan, pencemaran lingkungan, serta meningkatnya frekuensi bencana alam menunjukkan perlunya strategi penanganan yang lebih terpadu. Pendekatan holistik dinilai penting agar kebijakan lingkungan tidak hanya fokus pada penanganan setelah bencana terjadi, tetapi juga memperkuat langkah mitigasi dan pencegahan sejak dini.
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kondisi geografis kompleks memang menghadapi risiko tinggi terhadap berbagai bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, kebakaran hutan, hingga kekeringan. Kondisi tersebut diperparah oleh tekanan terhadap lingkungan akibat urbanisasi, eksploitasi sumber daya alam, dan perubahan iklim global yang terus meningkat.
Kepala BRIN menilai riset dan inovasi memiliki peran penting dalam membantu pemerintah menyusun kebijakan berbasis data ilmiah. Melalui penelitian yang terintegrasi, berbagai potensi risiko lingkungan dan bencana dapat dipetakan lebih akurat sehingga langkah pencegahan maupun adaptasi dapat dilakukan secara lebih efektif.
Selain aspek teknologi dan penelitian, pendekatan holistik juga mencakup keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Edukasi mengenai pelestarian alam, pengelolaan sampah, konservasi air, dan pengurangan emisi dinilai perlu diperkuat agar kesadaran lingkungan tumbuh secara kolektif di berbagai lapisan masyarakat.
Pengamat lingkungan menilai banyak bencana ekologis yang terjadi saat ini sebenarnya berkaitan erat dengan aktivitas manusia, seperti alih fungsi lahan, penebangan hutan, dan pembangunan yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan. Karena itu, penanganan persoalan ekologis membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
BRIN juga mendorong penguatan sistem pemantauan dan teknologi mitigasi bencana untuk menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin tidak menentu. Penggunaan data satelit, kecerdasan buatan, dan sistem peringatan dini dinilai dapat membantu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana di berbagai daerah.
Melalui pendekatan yang lebih menyeluruh dan berbasis ilmu pengetahuan, pemerintah berharap upaya menjaga lingkungan dan mengurangi risiko bencana dapat berjalan lebih efektif. Kepala BRIN menegaskan bahwa perlindungan lingkungan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan membutuhkan kerja sama bersama demi menjaga keberlanjutan kehidupan dan keselamatan masyarakat di masa depan.







