Jakarta, 13 Oktober 2026 – Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian terhadap persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali menjadi sorotan di sejumlah wilayah Indonesia. Prabowo disebut berencana meminta masukan dari para ahli untuk mencari pendekatan yang lebih efektif dalam mengatasi kebakaran dan dampak asap terhadap masyarakat. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat penanganan karhutla melalui pertimbangan ilmiah serta pengalaman teknis di lapangan. Persoalan kebakaran hutan dinilai membutuhkan solusi menyeluruh karena berkaitan dengan kondisi lingkungan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi. Keterlibatan para ahli diharapkan membantu pemerintah merumuskan kebijakan yang tepat untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.
Rencana meminta saran para ahli menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dalam menghadapi persoalan karhutla. Kebakaran hutan dan lahan memiliki karakteristik yang berbeda-beda, tergantung jenis vegetasi, kondisi tanah, serta faktor cuaca di wilayah terdampak. Pada kawasan gambut, api bahkan dapat menjalar di bawah permukaan sehingga lebih sulit dikendalikan dibandingkan kebakaran vegetasi biasa. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan khusus dengan memperhatikan ketersediaan air dan karakteristik lahan. Karena itu, pemerintah memerlukan masukan dari berbagai bidang keahlian untuk menentukan metode penanganan yang paling sesuai.
Kabut asap menjadi salah satu dampak karhutla yang paling dirasakan masyarakat, terutama ketika kebakaran berlangsung dalam skala luas. Asap mengandung partikel halus dan berbagai zat pencemar yang dapat menurunkan kualitas udara. Paparan dalam konsentrasi tinggi berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata, serta memperburuk kondisi kesehatan kelompok rentan. Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan membutuhkan perlindungan lebih ketika kualitas udara memburuk. Oleh karena itu, penanganan karhutla perlu dilakukan bersamaan dengan langkah perlindungan kesehatan masyarakat.
Para ahli lingkungan dan kehutanan dapat memberikan masukan mengenai strategi pencegahan kebakaran berdasarkan karakteristik kawasan rawan. Pendekatan tersebut dapat mencakup pemetaan wilayah berisiko, pemantauan titik panas, serta pengelolaan kondisi lahan sebelum memasuki periode kering. Pada kawasan gambut, menjaga tinggi muka air menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko terjadinya kebakaran. Pengelolaan tata air yang tepat dapat membantu mempertahankan kelembapan tanah sehingga bahan organik tidak mudah terbakar. Upaya pencegahan tersebut dinilai penting karena pemadaman kebakaran gambut sering membutuhkan sumber daya besar dan waktu panjang.
Selain ahli lingkungan, keterlibatan pakar meteorologi juga diperlukan untuk memahami hubungan antara kondisi cuaca dan perkembangan kebakaran. Suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, serta curah hujan dapat memengaruhi tingkat kerawanan dan penyebaran api. Informasi prakiraan cuaca dapat digunakan untuk menentukan prioritas pengawasan dan kesiapan personel di lapangan. Ketika kondisi atmosfer mendukung penyebaran asap, pemerintah juga perlu memperhatikan potensi dampaknya terhadap wilayah permukiman. Dengan dukungan data cuaca yang akurat, langkah antisipasi dapat dilakukan sebelum situasi berkembang menjadi lebih serius.
Penggunaan teknologi menjadi salah satu aspek yang dapat dipertimbangkan dalam memperkuat sistem penanganan karhutla. Pemantauan melalui satelit memungkinkan petugas mengidentifikasi indikasi titik panas di kawasan yang sulit dijangkau. Teknologi penginderaan jauh juga dapat membantu memetakan perubahan tutupan lahan dan wilayah yang mengalami peningkatan risiko kebakaran. Namun, informasi satelit tetap membutuhkan pemeriksaan lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya. Penggabungan teknologi pemantauan dengan patroli langsung diharapkan dapat mempercepat respons ketika ditemukan potensi kebakaran.
Penanganan karhutla juga membutuhkan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat terkait, dan masyarakat. Setiap pihak memiliki peran dalam pengawasan, pencegahan, pemadaman, serta pemulihan kawasan yang terdampak. Ketersediaan peralatan seperti pompa air, selang, kendaraan operasional, dan perlengkapan keselamatan menjadi faktor penting dalam mendukung petugas lapangan. Di wilayah yang memiliki akses terbatas, strategi distribusi peralatan harus disesuaikan dengan kondisi geografis. Koordinasi yang baik diperlukan agar sumber daya dapat digunakan secara efektif dan tidak terjadi keterlambatan penanganan.
Dari sisi ekonomi, kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan kerugian yang meluas apabila tidak segera dikendalikan. Aktivitas transportasi berpotensi terganggu akibat berkurangnya jarak pandang, sedangkan kegiatan pendidikan dan usaha dapat terdampak oleh memburuknya kualitas udara. Kebakaran juga dapat merusak kawasan pertanian, perkebunan, serta habitat satwa yang memiliki nilai ekologis penting. Biaya pemadaman dan pemulihan lingkungan menjadi beban tambahan yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan sumber daya. Karena itu, investasi pada langkah pencegahan dapat memberikan manfaat jangka panjang dibandingkan hanya mengandalkan penanganan setelah kebakaran meluas.
Rencana Presiden Prabowo meminta masukan para ahli diharapkan menjadi bagian dari penguatan strategi nasional menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Pendekatan ilmiah dapat membantu pemerintah memahami penyebab kebakaran, menentukan prioritas tindakan, dan mengevaluasi efektivitas kebijakan yang telah dijalankan. Meski demikian, keberhasilan penanganan tetap membutuhkan pelaksanaan yang konsisten, dukungan anggaran, serta pengawasan terhadap kawasan rawan. Perlindungan masyarakat dari paparan asap juga perlu menjadi perhatian utama selama operasi pengendalian berlangsung. Dengan kerja sama lintas sektor dan pemanfaatan keahlian yang tepat, risiko karhutla diharapkan dapat ditekan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat.





